Rabu, 03 Desember 2008

What's "Malari" ??


TAHUKAH ANDA TENTANG MALARI ??






KEKERASAN di Indonesia hanya dapat dirasakan, tidak untuk diungkap tuntas. Berita di koran hanya mengungkap fakta yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Kasus 15 Januari 1974 yang lebih dikenal “Peristiwa Malari”, tercatat sedikitnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak/dibakar, 144 bangunan rusak. Sebanyak 160 kg emas hilang dari sejumlah toko perhiasan.

Peristiwa itu terjadi saat Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka sedang berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974). Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat, rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara. Tanggal 17 Januari 1974 pukul 08.00, PM Jepang itu berangkat dari Istana tidak dengan mobil, tetapi diantar Presiden Soeharto dengan helikopter dari Bina Graha ke pangkalan udara. Itu memperlihatkan, suasana Kota Jakarta masih mencekam.

PERISTIWA Malari dapat dilihat dari berbagai perspektif. Ada yang memandangnya sebagai demonstrasi mahasiswa menentang modal asing, terutama Jepang. Beberapa pengamat melihat peristiwa itu sebagai ketidaksenangan kaum intelektual terhadap Asisten pribadi (Aspri) Presiden Soeharto (Ali Moertopo, Soedjono Humardani, dan lain-lain) yang memiliki kekuasaan teramat besar.

Ada analisis tentang friksi elite militer, khususnya rivalitas Jenderal Soemitro-Ali Moertopo. Kecenderungan serupa juga tampak dalam kasus Mei 1998 (Wiranto versus Prabowo). Kedua kasus ini, meminjam ungkapan Chalmers Johnson (Blowback, 2000), dapat disebut permainan “jenderal kalajengking” (scorpion general).

Usai terjadi demonstrasi yang disertai kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan, Jakarta berasap. Soeharto menghentikan Soemitro sebagai Pangkomkamtib, langsung mengambil alih jabatan itu. Aspri Presiden dibubarkan. Kepala BAKIN Soetopo Juwono “didubeskan”, diganti Yoga Sugama.

Bagi Soeharto, kerusuhan 15 Januari 1974 mencoreng kening karena peristiwa itu terjadi di depan hidung tamu negara, PM Jepang. Malu yang tak tertahankan menyebabkan ia untuk selanjutnya amat waspada terhadap semua orang/golongan serta melakukan sanksi tak berampun terhadap pihak yang bisa mengusik pemerintah.

Selanjutnya, ia amat selektif memilih pembantu dekatnya, antara lain dengan kriteria “pernah jadi ajudan Presiden”. Segala upaya dijalankan untuk mempertahankan dan mengawetkan kekuasaan, baik secara fisik maupun secara mental.

Dari sudut ini, peristiwa 15 Januari 1974 dapat disebut sebagai salah satu tonggak sejarah kekerasan Orde Baru. Sejak itu represi dijalankan secara lebih sistematis.

Senin, 01 Desember 2008

Purbakala

Teknologi Modern dan Penelitian Arkeologi


Penggunaan sinar laser pada Stonehenge (nama bangunan purbakala di Inggris) menghasilkan penemuan dua benda berukiran yang semula tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Hal ini dianggap penemuan yang menakjubkan yang dapat membantu pekerjaan arkeologi.

Sebenarnya, pada 1950-an di sana juga pernah ditemukan benda ukiran yang mirip. Namun, waktu itu menurut para arkeolog, “Sangat sulit untuk dilihat karena telah terkorosi”.
Arkeolog Tom Goskar menyatakan bahwa pemindaian (scanning) laser telah membuka cakrawala baru untuk melihat Stonehenge. “Dengan menggunakan teknologi itu kita tidak hanya menemukan semakin banyak benda ukiran, tetapi melihat kontur dengan jelas dan membantu orang-orang memahami bangunan purbakala itu,” demikian Goskar.
Teknologi memang telah banyak membantu pekerjaan arkeologi sejak lama. Pekerjaan yang tadinya terasa sangat berat bahkan terkesan “tidak mungkin bisa dianalisis”, ternyata menjadi semakin ringan dengan digunakan atau ditemukannya teknologi modern.
Dulu, ketika arkeolog menemukan sisa-sisa makanan, hasil kajian yang diperoleh sangat sedikit. Namun dengan bantuan mikroskop, informasi yang diperoleh semakin banyak.
Misalnya penelitian di Skara Brae, Skotlandia, terhadap beberapa rumah batu zaman Neolitikum yang berasal dari masa 3.000 SM. Di sana, bersama batu-batuan dan mangkuk-mangkuk cangkang, juga ditemukan sisa-sisa makanan.
Dari hasil analisis mikroskopik diketahui sisa-sisa makanan itu berupa susu dan produk biji-bijian. Jadi tidak hanya sekadar “sisa-sisa makanan”. Sisa-sisa tadi tentu menunjukkan susunan makanan orang-orang yang hidup pada saat itu.
Selain itu ditemukan zat pewarna merah (oker), yang diduga untuk melakukan aktivitas ritual (Arkeologi, Paul Devereux, 2003). Dengan menghasilkan informasi yang lebih detail, arkeologi mampu lebih banyak menghasilkan penafsiran.
Penemuan teknik baru DNA (Deoxyribonucleic Acid), juga semakin mudah mengungkapkan pemecahan kasus-kasus arkeologi. Kalau pada awalnya pemeriksaan DNA hanya berhubungan dengan tindakan kriminal, namun lambat-laun penelitian-penelitian arkeologi sering menggunakan teknik baru ini.
DNA dipandang merupakan cetak biru kehidupan bagi semua makhluk dan kode rahasia instruksi khusus yang membuat setiap makhluk hidup berbeda satu sama lain. Penelitian DNA, seperti yang dilakukan di Cuddle Springs (Australia), pernah membuahkan hasil menakjubkan. Penelitian itu difokuskan pada sebuah alat batu yang berusia 30.000 tahun.
Setelah dianalisis dengan mikroskop elektron, ternyata pada artefak tersebut ditemukan jejak darah dan rambut. Melalui analisis DNA kemudian diketahui bahwa jejak tersebut berasal dari seekor kanguru. Dari sanalah disimpulkan bahwa pada saat itu, orang-orang primitif sudah dapat berburu binatang-binatang besar.

Metallografik
Berbagai jenis logam yang ditemukan para arkeolog dalam ekskavasinya, tentulah sangat menguntungkan berbagai penelitian selanjutnya. Ini karena logam termasuk bahan yang dapat bertahan lama. Namun kendalanya, banyak jenis logam sudah aus termakan karat. Hal itulah yang menyulitkan para pakar arkeometalurgi (pengetahuan tentang logam kuno) untuk mengungkapkan segala informasi dari artefak tersebut.
Untunglah, kemudian berkembang pengujian metallografik dengan alat canggih. Teknik ini memakai zat kimia untuk mengupas bagian yang dipoles dari sebuah artefak logam guna mengetahui struktur logam di bawahnya. Daerah itu kemudian dipelajari menggunakan mikroskop.
Salah satu artefak yang pernah diuji secara demikian, sebagaimana tulis Arkeologi, adalah kapak perunggu yang dipakai untuk upacara, berasal dari Pulau Kreta di Yunani. Artefak itu dibuat sekitar tahun 3000 SM.
Tujuan pengujian adalah untuk mencari tahu metode yang dipakai untuk membuat artefak itu. Setelah dilakukan penelitian mendalam, ditafsirkan bahwa alat besi itu dipanaskan terlebih dulu di atas arang untuk mendapatkan ujung yang keras dan tajam.
Seiring dengan kemajuan teknologi, berkembang lagi teknik-teknik penelitian arkeologi. Berbagai temuan arkeologi di situs Nazca (Peru) banyak diteliti memakai teknik neutron aktif, dilakukan dalam rangka untuk mengetahui apakah benda-benda temuan seperti keramik dibuat oleh penduduk asli atau bukan. Berdasarkan analisis selanjutnya, ternyata dapat dijelaskan bahwa keramik tersebut dibuat dengan sejumlah cara yang berbeda dan tidak mungkin dibuat di Nazca.
Dengan demikian, analisis neutron aktif membantu para arkeolog mencari tahu tentang bahan pembuat sesuatu, cara membuatnya, dan asalnya. Suatu penemuan yang dipandang luar biasa dalam rangka memahami masa lampau.

Manual
Banyak penemuan arkeologi yang tergolong fantastis atau spektakuler terjadi di negara-negara dunia ketiga, seperti Mesir, Peru, Guatemala, Meksiko, India, dan Indonesia. Namun ironisnya, negara-negara tersebut tidak bisa berbuat banyak. Ini karena mereka belum memiliki teknologi (modern) untuk meneliti artefak-artefak purba tersebut. Yang justru berantusias menelitinya adalah negara-negara maju di Eropa dan AS.
Sejak lama bangsa Mesir, misalnya, dibuat terkagum-kagum oleh penelitian mumi yang dilakukan pakar-pakar Inggris. Baru-baru ini malah mumi Tutankhamun yang masih misterius, berhasil diungkapkan sebab-sebab kematiannya oleh British Museum bersama sejumlah pakar.
Senasib dengan itu adalah sisa-sisa kebudayaan Maya, Indian, dan Aztec di Amerika Selatan. Hampir seluruh artefak menjadi garapan serius secara besar-besaran oleh pakar-pakar AS.
Di Indonesia sendiri, penelitian arkeologi belum semaju di mancanegara, bahkan boleh dibilang masih bersifat manual. Temuan-temuan arkeologi di Indonesia padahal lebih beraneka ragam dibandingkan banyak negara lainnya. Dulu, kita pun pernah menjadi “bulan-bulanan” Belanda dalam penelitian arkeologi.
Kita memiliki lahan penelitian yang begitu luas dan beragam, mulai dari masa prasejarah dan masa Hindu-Buddha hingga masa Islam dan masa kolonial. Tetapi kita miskin anggaran, sehingga tidak mampu membeli peralatan yang modern untuk menunjang berbagai penelitian arkeologi di Tanah Air. n

Kamis, 27 November 2008

Rabu, 26 November 2008

Artikel-Q

Scanner 4D ada lho di Indonesia !!
Alat pemindai reaktor kimia ini berbasis teknologi electrical capacitance volume tomography (ECVT) generasi kedua yang telah dipatenkan oleh DR. Warsito yang merupakan kepala riset di CTECH Labs. Generasi kedua ECVT ini mampu melakukan pemindaian dengan kecepatan tinggi sehingga bisa melihat secara langsung proses yang terjadi di dalam reaktor kimia tertutup secara 3D dan real time. Grup riset dari Ohio State University di bawah Prof. LS Fan adalah pengguna pertama di dunia sistem ini dan akan digunakan untuk melakukan studi tingkah laku partikel dan gas di dalam reaktor kimia untuk mengembangkan energi baru pengganti minyak bumi. Prof. Fan adalah ketua konsorsium penelitian teknologi pemrosesan minyak yang beranggotakan top scientists dari hampir seluruh perusahaan minyak terkemuka di dunia seperti ExxonMobile, Shell, BP, hingga Air Product dan Dow Chemical. Hasil dari pencitraan 4D dengan ECVT ini akan mengisi salah satu sesi utama dalam acara pertemuan 100 Tokoh Dunia dalam Teknik Kimia sejak Perang Dunia II mulai tanggal 16 Nopember di Philadelpia, AS, yang diselenggarakan oleh American Institute of Chemical Engineers (AIChE), yang mana Prof. Fan terpilih menjadi salah satu dari 100 tokoh tersebut.

Rilis sistem scanner 4D generasi kedua di Ohio State University ini akan mengawali pemasaran produk teknologi ini di Amerika dan Canada melalui partner bisnis PT. Edwar Technology di Amerika, yaitu Tech4Imaging Company yang berpusat di Ohio. Sebelumnya system ECVT generasi pertama juga telah digunakan terutama di Ohio State University, dan juga perusahaan B&W, Ohio, AS dan Cambridge University, Inggris. Selain di Ohio State University, generasi kedua sistem ECVT juga akan dipasang di Morgantown National Laboratory milik Department of Energy, AS. PT. Edwar Technology juga sedang menangani pesanan sistem generasi kedua ini yang dilakukan oleh Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan Nanyang Technological
University (NTU), Singapore.

Kelompok peneliti di CTECH Labs terus mengembangkan teknologi ini untuk aplikasi di berbagai bidang mulai dari proses kimia, medis dan nano-teknologi. Bersamaan dengan rilis produk ini juga diajukan aplikasi paten teknologi ECVT resolusi tinggi ke kantor paten AS yang akan menjadi prototype sistem ECVT generasi ketiga yang merupakan basis aplikasi ECVT di dunia medis. CTECH Labs dalam waktu dekat juga merencanakan untuk merilis sistem nano-tomography yang pertama di dunia yang merupakan aplikasi ECVT di bidang nano-teknologi. CTECH Labs juga telah mengikat kerjasama pengembangan teknologi tomography dengan Ohio State University (AS) dan National Laboratory of Physics and Chemistry (RIKEN), Jepang.

Riwayat

Nama asli Q adalah Ismail Satrio Wibowo yang lahir di Djokdja tanggal 18-05-1994. Memang Q ni termasuk suku Jawa tapi Q dah lama di Jabar, so Q lancar bgt lho dalam bahasa Sunda bahkan aq lupa bahasa Jawa yang merupakan garis keturunan Ku. Mulai bersekolah aku sejak di TK ABA dan melanjutkan ke SD 05 Ciamis. Eh sebelumnya Q pernah tinggal di Bandung selama tiga tahun baru pindah ke sini. Sekarang aku sekolah di SMPN 1 Ciamis, letaknya ada di pusat kota lho !! n bisa di jangkau dari mana aza,,.